LAPORAN KASUS Perawatan Ortodonti Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 1
May 14th, 2007 by ade-laudwickLAPORAN KASUS
Perawatan Ortodonti Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe
1
MATHEUS MELO PITHON, DDS
CARLOS
VENTURA DE OLIVEIRA RUELLAS, DDS
ANTONIO CARLOS DE OLIVEIRA RUELLAS,
DDS , MS , PHD
Diabetes mellitus adalah
sebuah kerusakan metabolisme yang dikarakteristikkan dengan kekurangan insulin
sebagian atau total, atau juga bisa resisten terhadap hormone, berdasarkan pada
peningkatan kadar gula darah dan komplikasi yang diakibatkannya.1
Kebanyakan kasus diabetes mellitus digolongkan menjadi dua kategori :
· Tipe 1 (tergantung insulin).
· Tipe
2 (kombinasi dari kekurangan insulin dan resisten insulin).
Diabetes
mellitus tipe1 ditandai dengan tidak ada sama sekali produksi insulin, biasanya
diiringi dengan hiperglikemia yang parah dan ketoasidosis. Kebanyakan pasien terjangkit
penyakit ini dari kanak-kanak dan membutuhkan suntikan insulin untuk bertahan
hidup.1
Lima
komplikasi klasik dari diabetes melitus
adalah :
· Mikroangiopati.
· Neuropati.
· Penyakit makrovaskular.
· Luka susah sembuh.3-5
Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) menambahkan penyakit periodontal sebagai komplikasi
klasik yang ke 6 pada tahun 19993.
Peningkatan resiko periodontitis
pada pasien diabetes dapat dihubungkan pada banyak faktor ; berdasarkan umur
pasien, lamanya terkena diabetes,2,6,7,11-18 ada tidaknya dari
kontrol metabolit, dan tingkat plak bakteri.2,8,9 Pada orang dewasa
dengan diabetes tipe 1 telah ditemukan lebih gampang terkena gingivitis dan
periodontitis dari pada orang dewasa tanpa diabetes.11,12 Dalam
waktu yag cukup lama diabetes tipe 1 dapat merusak jaringan periodontal
sehingga mempercepat kehilangan klinis dari perlekatan ligamen periodontal.10
Metabolisme tulang rusak disebabkan
oleh pengaruh langsung dari hiperglikemia dan efek penyakit vaskular yang cukup
lama.3-15 Pasien diabetes melitus dengan kontrol yang inadekuat juga
menunjukkan kehilangan yang banyak dari insersi serat periodontal dan tulang alveolar dari pada pasien diabetes
yang terkontrol dengan baik.17,19 Temuan ini sangat bermanfaat bagi
para ortodontis karena jika pasien diabetes melitus datang dengan penyakit
periodontal tahap awal sangatlah penting untuk melakukan urutan perawatan yang
mungkion untuk mencegah hal yang lebih buruk dari kondisi yang masih
berlangsung pengrusakan jaringan periodontal. Artikel ini melaporkan sebuah
perawatan orto yang melibatkan ekstraksi gigi premolar kedua pada pasien dewasa
dengan diabetes melitus tipe 1 dan kehilangan jaringan pendukung tulang yang
cukup luas.
Diagnosis
Seorang wanita berusia 38 tahun datang
dengan keluhan utama berupa estetis gigi yang cukup buruk. Berdasarkan riwayat
medisnya terdapat diabetes melitus tipe 1 dengan suntikan insulin perhari untuk
mengkontrol level gula darahnya. Pada pasien ini diketahui tidak terdapat
hipoglikemik ataupun hiperglikemik, sehingga memberikan indikasi bahwa pasien
ini bisa kooperatif dalam perawatan ortonya. Pasien ini oral higiennya baik dan
tidak ada lesi karies yang aktif.
Pada
pemeriksaan klinis passien menunjukkan
simetris wajah yang normal, penutupan bibir saat istirahat baik, dan penampakan
wajah yang mesosefalik gambar 1. Profil wajah cekung tetapi hubungan bibir
baik. Pasien mempunyai hubungan molar kelas I dan susunan kaninus atas sedang
dan bawah croowded. Overjet 4 mm ,
overbite 5%, kehilangan tulang ang cukup luas terlihat pada gambaran
radiografisnya, diakibatkan oleh komplikasi periodontal dari diabetes melitus.
Foto sefalometrik pasien menunjukkan hubungan
anterior-posterior ang normal dan hubungan rahang transversal (SNA = 780 ;
SNB = 760) dengan
hubungan skeletal kelas I sehingga ANB =
20. Inklinasi insisivus atas dan bawah posisinya baik. (I-NA ; 230
, 5 mm ; I- NB ; 220 , 4 mm ; I-I ;1310).




Gambar 1. Seorang pasien wanita berusia
38 tahun dengan diabetes melitus tipe 1 dan kerusakan yang cukup luas dari
jaringan pendukung tulang sebelum perawatan.
Rencana Perawatan
Ekstraksi
premolar dilakukan karena pasien tidak puas pada posisi insisivus bawah dan
kekurangan ruang pada lengkung rahang sebesar 7 mm. Gigi yang dipilih untuk
ekstraksi adalah premolar dua, karena apabila dilakukan ekstraksi pada gigi
premolar satu akan menghasilkan reposisi ang berlebih dari insisivus, dapat
mengakibatkan wajah terlihat lebih cekung. Obat amoksisilin diberikan satu jam
sebelum pencabutan untuk mencegah infeksi.
Sebelum dilakukan perawatan
ortodonti, pasien dirujuk ke ahli endokrin untuk mengevaluasi kadar gula
darahnya dan dirujuk ke periodontis untuk kontrol plak bakteri dan instruksi
oral higiene. Pasien diberitahu agar menggunakan obat insulinnya setiap hari
dan kembali ke ahli endokrin dan periodontis setiap tiga bulan baru dilakukan
perawatan ortodontinya, ditegaskan kepada pasien bahwa hal ini membutuhkan
kerjasama dan multi disiplin dalam perawatan pasien diabetes. Sekali-kali kadar
gula darah dan tingkat kehilangan tulangnya diperiksa, pada tahap awal pesawat
rahang atas dan rahang bawah dipasang.
Progres Perawatan
Leveling dan alignment dibuat dengan segmentasi lengkung dari molar dua ke
kaninus, dan gigi premolar 1 secara bertahap ditarik dengan rangkaian elastis.
Secara kontiniu 016” , .018”, .020”, dan .019” x .025” arcwires kemudian digunakan untuk menyempurnakan Leveling dan alignment dan menutup sisa ruangan. Sebuah .019” x .025” finishing
archwire dengan torsi dan bend
yang ideal digunakan untuk menempurnakan kasus ini..
Setelah tiga tahun dari perawatan,
pesawat dilepas. Lingual retainer 3-3 pada rahang bawah dipasang, dan pada
rahang atas wraparound retainer
dipasang.
Hasil
Oklusal
yang dihasilkan cukup memuaskan , dengan pergerakan kaninus ke lateral dan
insisivus yang digerakkan secara protrusif (gambar 2). Terlihat pada
sefalometri terdapat penutupan ruangan bekas ekstraksi, diperoleh retroklinasi
dan retrusi dari rahang atas dan rahang
bawah insisivus I-NA = 120 , 3 mm ; I-NB =210
, 3 mm dan penjangkaran molar tidak terlihat.
Kecekungan wajah bawah pasien
bertambah karena reposisi insisivus dan penuaan dari jaringan lunak. Kehilangan
sedikit jaringan pendukung periodontal diamati, khususnya pada daerah
ekstraksi, dimana sangat memungkinkan pada pasien diabetes untuk terjadi
kehilangan tulang dan inflamasi
Secara perlahan keberhasilan dalam
perawatan ortodonti bertambah,22 kontrol glukosa darah ang teratur,
dan oral higiene yang baik pada pasien
semuanya menyumbangkan keberhasilan perawatan.
Lima
tahun setelah perawatan, ketika pasien
kembali untuk reevaluasi, kondisi oklusal dan dan periodontalnya telah stabil.


Gambar 2. A. Pasien setelah pencabutan keempat gigi premolar keduanya dan
tiga tahun setelah perawatan ortodonti. B. Superimpose tracing sefalometri
sebelum dan setelah perawatan
Diskusi
Perawatan
ortodonti pada pasien diabetes melitus tipe 1 tidak akan dilakukan sebelum
penakitnya terkontrol dengan baik, karena pada pasien diabetes lebih mudah
terkena infeksi dan penakit periodontal, dan krisis hipoglikemik dapat
menyebabkan koma. Perawatan yang adekuat pada oral higiene adalah sangat
penting untuk mencegah penumpukan plak bakteri plak bakteri, khususnya pada
pasien yang meningkat resiko penyakit karies dan dan periodontalya.23
Seperti yang kita ketahui, perawatan
konvensional ortodonti pada pasien diabetes adalah memungkinkan, tergantung
dari kontrol yang sangat intensif dan evaluasi tetap dari kadar gula darah
pasien dan kondisi jaringan periodontalnya
REFERENSI
1. Neville, B.W.; Damm, D.D., Alien, C.M., and Bouquet, J.E.: Manifestacoes orais de doen9as
sistemicas, in Patologia Oral e Maxilofacial, Guanabara Koogan, Rio de
Janeiro, Brazil, 1998, p. 600.
2. Nishimura, F;
Takahashi, K; Kurihara, M.; Takashiba, S.; and Murayama, Y.: Periodonta!
disease as a complication of diabetes mellitus, Ann. Periodontol. 3:20-29,
1998.
3 Taylor, G W, Burt, B.A
; Becker, M.P; Genco, R.J ; and Shlossman, M.: Gly-cemic control and alveolar
bone loss progression in type 2 diabetes, Ann. Periodontol. 3:30-39, 1998.
4.Inoue, H.; Shinohara,
M.; and Ohura, K.: The effect of leukocyte function of streptozotocin-induced
diabetes in naturally occurring gingivitis rat, J. Osaka Dent. Univ. 31:47-54, 1997.
5.lacopino, A.M.: Diabetic periodontitis: Possible
lipid-induced defect in tissue repair through alteration of macrophage
phenotype and function. Oral Dis. 1:214-229,1995.
6.Salvi, G.E.; Beck, J.D.; and Offenbach-er, S.: PGE2, IL-1
beta, and TNF-alpha responses in diabetics as modifiers of periodontal disease
expression, Ann. Periodontol. 3:40-50, 1998.
7.Oliver, R.C. and Tervonen, T.: Diabetes—A risk factor
for periodontitis in adults? J. Periodontol. 65:530-538, 1994.
8. Grossi, S.G. and Genco, R.J.: Periodontal disease and
diabetes mellitus: A two-way relationship, Ann. Periodontol. 3:51-61, 1998.
9. Emingil, G.: Darcan, S.; Keskinoglu, A.; Kutukculer, N.,
and Atilla, G.: Localized aggressive periodontitis in a patient with type 1
diabetes mellitus: A case report, J. Periodontol. 72:1265-1270, 2001.
10.Firatli, E.: The relationship between clinical
periodontal status and insulin-dependent diabetes mellitus: Result after 5
years, J. Periodontol. 68:136-137, 1997.
11. Cohen, D.W.; Friedman,
L.A. ; Franklin ,
Shapiro, J.; Kyle, G.C.; and
S.: Diabetes mellitus and periodontal disease: Two year longitudinal observations,
Part I, J. Periodontol. 41:709-712, 1970.
12.Cianciola, L.J.; Park, B.H.; Bruck, E.; Mosovich, L.;
and Genco, R.J.: Prevalence of periodontal disease in insulin-dependent diabetes
mellitus (juvenile diabetes), J. Am. Dent. Assoc. 104:653-660, 1970.
13.Nevins, M.L.;
Karimbux ,
N.Y. ; Weber, H.P.; Giannobife,
W.V.; and Fiorellim, J.R: Wound healing around endosseous implants in
experimental diabetes, Int. J. Oral Maxillofoc. Implants, 13:620-629, 1998.
14.Shyng, Y.C.; Devlin, H.; and Sloan, P.: The effect of
streptozotocin-induced experimental diabetes mellitus on cal-varial defect
healing and bone turnover in the rat, Int. J. Oral Maxillofac. Surg.
30:70-74,2001.
15.Krakauer, J.C., McKenna, M.J., Buder-er, N.F.; Rao,
D.S.; Whitehouse, FW; and Parfitt, A.M.: Bone loss and bone turnover in
diabetes, Diabetes 44:775-782, 1995.
16.Glavind, L.;
Lund ,
B.; and Loe, H.: The relationship between periodontal state and diabetes
duration, insulin dosage and retinal changes, J. Periodontol. 39:341-347, 1968.
17.Hugoson, A.; Thorstensson, H., Falk, H., and
Kuylenstierna, J.: Periodontal conditions in insulin-dependent diabetics, J.
Clin. Periodontol. 16:215-223, 1989.
18.Thorstensson, H. and Hugoson, A.: Periodontal disease
experience in adult long-duration insulin-dependent diabetics, J. Clin.
Periodontol- 20:352-358, 1993.
19.Tervonen, T. and Knuuttila, M.: Relation of diabetes
control to periodontal pocketing and alveolar bone level, Oral Surg. Oral Med
Oral Pathol. 61:346-349, 1986.
20.Safkan-Seppala, B. and Ainamo, J.: Periodontal
conditions in insulin-dependent diabetes mellitus, J. Clin. Periodontol.
19:24-29, 1992.
21. Tervonen, T, Karjalainen, K..; Knuuttila, M.; and
Huumonen, S : Alveolar bone loss in type 1 diabetic subjects, J. Clin. Periodontol. 27:567-571,
2000.
22. Rey, AC.: Movimento ortodontico em rates
"wistar" com diabetes mellitus induzido, UFRJ/Faculdade de
Odonto-logia, Rio de Janeiro, Brazil, 2003.
23. Bensch, L.; Braem, M.; Van Acker, K.; and
Willems, G.: Orthodontic treatment considerations in patients with diabetes
mellitus, Am. J. Orthod. 123:74-78, 2003.





